
a. maju dan bengian ngulom bobon
b.sorah gawi pada proatin
c.miluh wali nikah (minta wali nikah)
d.ningkuh
e.mendirikan tarup atau bangsal
f.ngebingiyankon (minta bantuan tenaga kerja anak menantu)
g.nyuak dan ngulom (undangan)
h.ngantat oban sou- sou minang
i.pati sapi/pati kerbau (menyembelih sapi atau kerbau)
j.ngantat pengurangan(mengantar,ikan sayuran dan lain-lain)
k.midang keliling morge siwe(arak-arakan muda mudi)
l.mulah(hari bermasak)
m.mungga,turki/nurgi
1.nyungsung maju(menjemput mempelai perempuan)
2.mengantar atau menerima baju persalinan
3.nyungsung ungaian(menjemput rombongan keluarga menpelai perepuan)
4.mapak ungaian(menyambut undangan)
5.akat nikah
6.juluk atau gelaran
7.manjao kahwin
8.tari cang-cang
9.nyorahken oban-oban sow-s0w gelahon dan rumpunan
10.nyorahkon cangkorom
11.ngantot san-san barang bawak,an
12.kecuak-an mongan(kundangan makan siang)
13.juli(kerata kebesaran)
n.anan tuwui: a.ngarak pacar
b.malam gembira dengan iringan orkes
o.lang-ulangan(mengembalikan barang pinjaman/sewaan)
p.nganan tuwuikon maju(mempelai perempuan tidur di rumah orang tua nya)
q.ngulangkon pukal
r,anan tuwui semehongot(tidur di rumah orang tua mempelai permpuan)
3.PELAKSANAAN PERKAWINAN MABANG HANDAK
a.maju dan bengiyan ngulom bonbon morge siwe (kedua mempelai sanak pamilih sebelum menyebelah)
Sebelum
tahap demi tahap upacara adat perkawinan”TINGKAT MABANG HANDAK” di
laksanakan,maka kedua mempelai maju dan bengiyan dengan di damping
masing-masing seorang pukal berjalan kaki naik rumah turun rumah sanak
keluarga masing-masing pihak dalam marga kayuagung(morge siwe),guna
memberitahukan serta mengundang atau mengajak kapan sedekah prkawinan
mereka dilaksanakan dan agar dapat hadir pada upacara tersebut.
Pada upaca ini maju (mempelai perempuan) berpakaian adat yaitu kain dan
selendang songket,kebaya panjang,pakai gandik di kening serta di
sanggulnya ada kembang rampai.bagi bengiyan(mempelai
laki-laki)berpakaian setelan jas,pakai kopiah,pakai kain sarung bumpak
atau gebeng setengah tiang serta menyampirkan sehelai handuk untuk alat
sujud(handuk adalah kegunaan nya sewaktu-waktu mengelap kening dan untuk
lapis sujut bala terhadap wanita)
Tiap-tiap penduduk masyarakat adat kayuagung(morge siwe),jika akan
melangsungkan adat perkawinan,maka menjadi keharuan”SORAH GAWE DE
PERWATIN”
Tahap serah gawi pada proatin,setelah upacara adat maju dan bengiyan
ngulom bobon morge siwe,atau sebelum upacara adat ningkuk.
Maksud dan tujuan dari sorah gawe ini ialah dalam upacara sedekahan
perkawinan,pratin tersebut bertanggung tawab memimpan segala acara
adat, sehingga kalau ada umpat dan puji dari upacara ini adalah proatin.
Sebagai satu kehormatan permohonan minta kesediaan terhadap proatin
tersebut menurut hukum adat kayuagung, yang punya hayat mengutuskan 3
(tiga) orang membawa dan menyerahkan berupa:
1) Suatu hidangan atau tapsi nasi ketan yang atasnya ada seekor ayam panggang, ditudungin dengan tudung saji serta seprah.
2) Satu hidangan atau tapsi nasi, ketan yang diatasnya ada gula aren ditutup dengan daun pisang yang bulat bentuknya.
3) Satu buah tepak untuk membuka pembicaraan sebagai penghormatan.
Awal
tugas pimpinan proatin dimulai pada malam NINGKUK kehapan para
undangan, menguraikan tahap-tahap upacara yang akan dilaksanakan satu –
persatu.
Juga
ditekankan kepada semua yang hadir diharapkan bantuannya, agar ucapan
ini dapat berjalan dengan lancer seperti yang diharapkan serta yang
angan-angankan oleh punya hajad.
Kepada yang akan berpergian diharapkan ditangguhkan dahulu, untuk hadir dan membantu mengangkat sedekah ini.
Proatin yang menjadi pimpinan upacara ini dibantu oleh perangkat
bawaannya beserta ibu-ibunya. Demikianlah upacara Adat Sorah gawi dan
selanjutnya akan kami uraikan tahap upacara KILU WOLIK NIKAH.
c. Kilu Woli Nikah (Mintak Woli Nikah)
Upacara ADAT KILU WOLI NIKAH dilaksanakan sebelum upacara ADAT NGUMPUL ATAU NINGKUK dilaksanakan.
Pelaksanaannya
dilakukan oleh pihak keluarga mempelai laki-laki datang kerumah
mempelai perempuan, yaitu mengutus 3 (tiga) orang laki-laki yang telah
berkeluarga dengan didampingi seorang penggawa yang berpakaian celana
serta kemeja pakai kopiah sarung setenggah tiang membawa:
1) Satu tapsi atau talam nasi putih yang diatasnya ada seekor ayam panggang ditutupi tudung saji.
2) Satu tapsi atau talam nasi ketan yang diatasnya…..
3) Satu
buah tapak berisi cukup sarananya, sebagai tanda kehormatan pembuka
bicara untuk menyerahkan OMI BATURAN, minta wali nikah kepada ahli
mempelai perempuan.
Maksud
dan tujuan “KILU WOLI” ini ialah, agar Wali Nikah dari pihak mempelai
perempuan diminta hadir pada upacara Adat Nikah yang akan dilangsungkan
nantinya dirumah kediaman orang tua mempelai laki-laki, yang waktunya
sudah disepakati sebelumnya, yaitu pada waktu upcara “KENGIAN”.
Untuk diketahui sebagai SANKSI dari Adat Kilu Woli ini apabila tidak dipenuhi oleh pihak keluarga mempelai laki-laki, maka Wali Nikah atau orang tua mempelai perempuan tidak akan hadir pada waktu upacara Akad Nikah.
Berlakunya Adat Kilu Woli ini tidak tergantung besar kecilnya sedekah
perkawinan, walau sedekah perkawinan itu tidak memakai adat sekalipun
(Adat Setinong-tinong dan Sepinong-pinong). Juga Adat Kilu Woli ini
tidak dapat ditebus atau diganti dengan uang ataupun barang.
Hingga disini selesaikan sudah Adat Kilu Woli dan kita uraikan tahap berikutnya yaitu Upacara Adat NINGKUK.
d. Upacara Adat Ningkuk
upacara Adat Ningkuk adalah awal permulaan dari tahap-tahap kegiatan
pelaksanaan khusus untuk sedekah perkawinan yang tingkatannya “ADAT
MABANG HANDAK” yaitu upacara yang penuh beradat, menurut sebutan
masyarakat Kayuagung BEGAWI atau BEGOROK.
Yang diundang pada acara NINGKUK ini antara lain:
1. Penerima Baju Persalin laki-laki dan perempuan
2. Proatin beserta ibu dalam dusun tersebut
3. Ahli dari keluarga pihak mempelai perempuan atau yang mewakilinya beserta salah satu proatinnya
4. Kaum kerabat, handai taulan dan semua penduduk dalam dusun tersebut.
5. Mesayu dan Capdalom serta bujang dan gadis dalam dusun tersebut.
6. Para bengian dari penerima Baju Persalin.
7. Yang dianggap perlu.
Adapun
yang memimpi acara Ningkuk sekaligus yang menjadi juru bicaranya adalah
proatin setempat beserta ibu, sebagai awal tanggung jawab sampai akhir
dari pelaksanaan sedekah perkawinan ini. Ada cacat cela buruk baiknya
pelaksanaan upacara adat perkawinan ini sedekah perkawinan ini. Ada
cacat cela buruk baiknya pelaksanaan upacara adat perkawinan ini adalah
tanggung jawab proatin yang telah diserahi kepercayaan oleh yang
mempunyai hajat.
Kepada Proatin yang bersangkutan sebelumnya diberikan antara Nasi Baturan/ Omi Sanian, sebagai Sorah Gawi,
kepada pihak Proatin Pihak Penganten Perempuan adalah Kilu Tanoh
Tangkop kepada Proatin pihak laki-laki Nyorahkan Gawi, adapun Omi
Baturan atau Omi Sanian itu terdiri dari dua tapsi/ talam tidak ada
bedanya dengan antaran Kilu Woli.
Satu
Tapsi/ Talam berisi nasi putih diatasnya ada seekor ayam panggang dan
Tapsi/ Talam kedua berisi nasi ketan yang diatasnya ada selembar daun
wadah untuk gula merah atau gula aren. Masing-masing tapsi/ talam
ditutupi dengan tudung saji terindak kecil diatas daun pisang dengan
berbentuk bulat.
Penyerahan
Sorah Gawi ini ada kalanya bersamaan sekaligus dengan ucapan Kilu Woli,
yang meringkaskan atau meringankan pekerjaan, sebab banyak kegiatan
lainnya telah menunggu untuk dilaksanakan.
Antaran
Nasi Bantuan ini bertujuan dengan maksud upacara sedekah perkawinan ini
pihak keluarga mempelai laki-laki dengan mempimpin serta mengepalai
dengan penuh tanggung jawab atas penyerahan tugas ini selaku Penguasaan
Adat.
Bertindak sebagai juru bicara penyampaian upacara Ningkuk ini Proatin setempat menitik beratkan sebagai berikut:
1) Upacara
terima kasih kepada rombongan keluarga pihak mempelai perempuan beserta
Proatinnya atas berkenan hadirnya serta tidak terkecuali kepada semua
yang hadir.
2) Mengumumkan
satu persatu tahap-tahap acara yang akan dilaksanakan mulai dari awal
serta jumlah persediaan hidangan untuk rombongan keluarga pihak orang
tua mempelai perempuan dan lain-lain hal yang dianggap perlu.
3) Mengharap
bantuan tenaga dan pikiran semua pihak yang hadir untuk mencari,
mengumpulkan segala macam keperluan dalam pelaksanaan upacara ini.
4) Pembagian tugas melalui pembentukan seksi-seksi.
5) Membacakan
daftar penerima Baju Persalin, yang ditujuannya kalau terdapat
kekeliruan dan kekhilafan, agar diralat jangan sampai ada yang terlupa
yang harus berhak menerima, persalin tersebut.
6) Melalui
masayu dan Cap Dalom bagi seluruh Bujang dan Gadis agar sarana Oban/
Bawaan Mouli- Muanai dicari dan dikumpulkan, serta Tahap- tahap upacara
ini diberi tahu.
Setelah
semua rampung, maka ditanyakan pada semua hadirin apakah ada yang
kurang dalam penyampaian ini atau ada usul dan saran, sedang kepada
pihak rombongan Basen yang hadir ditanyakan juga apakah dapat memahami
apa yang harus disampaikan tadi.
Oleh
karena tidak ada usul dan saran serta semua yang hadir cukup faham dan
mengerti, maka upacara Ningkuk ini ditutup dengan Do’a selamat serta
para petugas hidangan menyiapkan sajian minuman ala kadarnya.
Setelah
selesai upacara Ningkuk ini dilakukan oleh pihak keluarga laki-laki,
maka malam berikutnya kelurga pihak mempelai perempuan juga melakukan
Ningkuk yang serupa dengan tujuan minta pada hadirin untuk mengirimkan
kerumah keluarga mempelai laki-laki. Pada keluarga besar diantara
setingkat makanan (Biye) selaku kehormatan.
Sampai
disini tahap upacara Ningkuk selesai dan besok paginya tahap upacara
mendirikan Tarubd dan Bangsal secara gotong royong dilaksanakan.
e. Upacara Adat Mendirikan Tarub / Bangsal.
Dahulu kala untuk melaksanakan upacara adat perkawinan serta kegiatan
lainnya masyarakat Adat Morge Siwe (Kayuagung) melakukannya di SOSAT
(Balai Desa).
Segala bentuk kegiatan mulai dari awal sampai akhir diselesaikan
diSOSAT / Balai Desa ini, termasuk juga tempat berkumpulnya Bujang dan
Gadis menyambai (ini dulu sekarang tidak ada lagi).
Sebuah dusun belum diakui dusun kalau belum memenuhi pesyaratan mempunyai:
1) SOSAT / BALAI DESA / BALAI ADAT
2) MESJID TEMPAT BERIBADAT
3) TANGGA RAJA
Namun
oleh kemajuan zaman dan penghuni dusun kian bertambah jumlah
penduduknya serta rumah-rumah banyak didirikan, maka fungsi Sosat /
Balai Desa ini tidak lagi dimanfaatkan dan akibatnya dan akibatnya tidak
terpelihara, sudah tentu dimakna usia dan roboh.
Dimana-mana disetiap dusun dalam Morge Siwe, kalau adat hajat cukup
diadakan rumah masing-masing, sehingga kalau rumah kurang tempat
penampungannya, maka didirikan sebuah bangunan Takrub / Bangsal dengan
ukuran luas tergantung keperluan.
Kegiatan mendirikan tarub ini dikerjakan secara gotong royong terdiri
dari kaum kerabat, handai taulan, tetangga serta penduduk dusun itu
sendiri.
Mereka-mereka inilah yang mengusahakan meminjam dan mencari
barang-barang yang diperlukan untuk pendirian Tarub ini, sedang yang
punya hajat sendiri terkadang tidak tahu menahu siapa dan dari mana
barang-barang tersebut dipinjam atau disewa.
Dalam upacara mendirikan Tarub inilah dapat terceminkan kegotong
royongan masyarakat satu sama lain. Namun sekarang Tarub/ Bangsal
seperti tersebut diatas sudah sukar dipinjam lagi sudah ada Tarub /
Terpal sewaan mau berapa petak saja.
Dalam upacara mendirikan Tarub inilah dapat terceminkan
kegotong-royongan masyarakat satu sama lain. Namun sekarang Tarub/
Bangsal seperti tersebut diatas sudah sukar pinjam lagi sudah ada Tarub/
Terpal sewaan mau berapa petak saja.
f. Ngebengiyankon (Minta Bantuan Tenaga)
Kata Objek Bengiyan = Mempelai laki-laki
Kata Objek Maju = Mempelai perempuan
Ke-Bengiyanan, berarti membantu bertugas menyelesaikan suatu pekerjaan yang dibebankan oleh pihak keluarga atau family sebelah suami kita.
Ke-Majuan, berarti membantu bertugas menyelesaikan sautu pekerjaan yang dibebankan oleh keluarga atau family sebelah suami kita sendiri.
Ngebengiyankon,
berarti keluarga yang punya hajat adalah keluarga dari isteri kita
sendiri, datang kerumah menyuruh pertugas membawa sebuah rantang berisi
Nasi Putih dan telor rebus, sebagai pengamitan untuk meminta bantuan tenaga dari para Bengiyan dalam rangka upacara sedekah perkawinan tingkat “ADAT MABANG HANDAK”.
Para
Bengiyan ini tidak dapat menolak atau menangguhkan penunjukan ini dari
yang empunya hajat terkecuali berhalangan, karena penunjukan atas
Bengiyan yang bersangkutan adalah berasal dari mertua atau
setidak-tidaknya Paman atau Nenek pihak keluarga isteri kita sendiri.
Adapun kaitan atas penunjukan ini dasarnya mertua atau keluarga pihak
isteri kita dapat kehormatan menerima Baju Persalin, yang melambangkan
masih ada hubungan keluarga dekat dengan yang punya hajat.
Adapun
bantuan yang mintak adalah mulai dari awal kegiatan upacara sampai
selesai, yang memakan waktu lebih kurang tiga hari tiga malam. Pekerjaan
apasaja yang dibebakan sesuai dengan keahlian tidak dapat ditolak dan
dikerjakan dengan penuh tanggung jawab.
Kedatangan
para Bengiyan ketempat upacara yang punya hajat, Satrangkaik (lima
buah) buah kelapa serta tidak ketinggalan terselip dipinggangnya sebuah
parang kecil untuk alat dalam menyelesaikan suatu tugas yang
diterimanya.
Khusus untuk menservis makan serta minum para Bengiyan ini, telah pula ditugaskan beberapa orang PUKAL
(pelayan), dimana para pukal ini khusus pekerjaannya melayani keperluan
Bengiyan, mulai dari makan dan minum serta kepentingan lainnya,
sehingga para Bengiyan ini merasa puas atas layanan yang diterimanya.
Bermacam-macam pekerjaan berat harus diselesaikan atau pekerjaan oleh Bengiyan ini antara lain:
1) Memasak Nasi di Kawah.
2) Mengupas Buah Kelapa dan Membelah Kayu api.
3) Menimba dan Mengangkut air.
4) Antar Jemput Para Undangan Menggunakan Perahu.
5) Menyiapkan utoran Hidangan untuk Ungaian.
6) Dan lain-lain pekerjaan Berat yang bertalian dengan Upacara
Tempat
makan dan minum serta istirahat Bengiyan disediakan khusus satu buah
rumah yang tidak bercampur dengan para pembantu pekerjaan lainnya serta
orang-orang yang juga turut dengan kesibukan masing-masing.
Tahap berikutnya yaitu tahap NYUAK dan NGULOM.
g. Nyuak dan Ngulom (Mengudang)
NYUAK = Petugas laki-laki yang telah beristeri untuk mengudang
NGULOM = Petugas perempuan yang telah bersuami untuk mengudang.
Petugas Nyuak dan Ngulom ini adalah orang diminta kesediannya oleh keluarga yang melaksankan upacara.
Para
petugas ini masih ada hubungan keluarga dengan yang punya hajat, untuk
mengudang masyarakat yang bertempat tinggal dalam dusun petugas yang
mengudang (Nyuak dan Ngulom)
Jumlah
pertugas ini tergantung dari besar kecilnya dusun yang diundang dan
bahkan kalau perlu sampai masing-masing juru Nyuak dan Ngulom berjumlah 3
(Tiga) orang bertugas.
Umumnya upacara Nyuak dan Ngulom ini dilakukan 3 (tiga) hari sebelum hari TURGI (MUNGGAH). Pakaian para petugas Nyuak (bagi laki-laki), yaitu baju BALAH- BULUH, CELANA BIRU, KAIN SARUNG SETENGAH TIANG BERKOPIAH. Pakaian petugas Ngulom
(bagi kaum ibu) yaitu KAIN SARUNG BATIK PUTIH, BAJU KURUNG WARNA BIRU,
BERKEMBAN SERTA PAKAIAN TENDA/ TUDUNG KEPALA (terbuat dari daun nipah),
sekarang pakaian pantas saja.
Ucapan
petugas tersebut berbunyi lebih kurang sebagai berikut : Onyak jede
isung si “A” ngajak komu segale-gale hage killu caromi IRINGKON UNGAIAN/
PAPA ON UNGAIAN, hajatne hage ngoro kon sanak ne sai begolou……..
a) Hari jemahat Nyuak / Ngulom.
b) Hari sabtu Mulah Pati Sapid an Midang.
c) Hari ahad Turgine / Munggah.
Pogok-ankomu
sangat teharopkan dan kontu uwat anak mauli atau muanai kilu iringkon
Midang. Kalau petugas Nyuak dan Ngulom ini menyebutkan kilu iringkon
kuangaian, maka berarti petugas Nyuak tersebut adalah suruhan dari pihak
keluarga mempelai perempuan, namum sebaliknya kalau petugas tersebut Kilu Papokan Ungaian maka petugas tersebut adalah suruhan dari pihak mempelai laki-laki.
Terjemahan
undangan/ajakan dala bahasa Indonesianya oleh petugas Nyuak lebih
kurang sebagai berikut : “Saya ini disuruh si “A” mengudang serisi rumah
ini diharapkan hadir pada pesta perkawinan anaknya bernama……yang akan
dilaksanakan”:
1) Hari Jum’at Mengudang
2) Hari Sabtu Bermasak Menyembelih Sapi dan Midang
3) Hari Ahad Munggah
Kalau
ada anak gadis atau bujang diharapkan dan diminta ikut mengiringkan
Midang. Jawaban dari yang diundang lazim diterima oleh petugas “INSYA
ALLAH” dan petugas mohon pamit serta member salam untuk meneruskan
kerumah berikutnya, sehingga sampai selesai. Andai yang diundang tidak
ada dirumah edang berpergian, maka undangan ini disampaikan titipan
pesan kepada tetangganya disebelah.
Jika
petugas Nyuak dan Ngulom yakin ada yang ketinggalan untuk diundang,
maka petugas tersebut segera laporan kepada yang punya hajat kepada
petugas, maka bersamaan rombongan petugas lainnya bersama-sama diberikan
suguhan ala kadarnya.
Sampai disini upacara Nyuak dan Ngulom dan tahap berikutnya yaitu tahap Upacara Oban Sow-Sow.
h. Upacara Adat Oban Sow-sow Midang.
Sebelum Upacara Adat Oban Sow-sow diuraikan, ada baiknya difahami makna
arti dan tujuan dari Oban Sow-sow itu sendiri. Oban Sow-sow terdiri
dari bermacam-macam kue dan rempah-rempahan, dimana diantara kue-kue itu
ada 5 (lima) macam kue Adat yaitu:
1) Bolu Sow-sow.
2) Limau Purut.
3) Gunjing
4) Cucur
5) Apil
Kelima macam kue ini harus
ada, sedang yang lainya hanya sebagai pendamping atau pelengkapan/
penambah jumlah. Jika terjadi diantara salah satu kue ini tidak ada,
maka kepada pengantar Oban Sow-sow diberikan sanksi hukuman yang telah
ditentukan Hukum Adat, tegasnya tidak ikut serta Midang oleh Proatin.
Adapun
makna dan arti serta tujuan dari oban sow-sow adalah suatu kehormatan
yang ada kaitannya dengan yang akan disongsong umpama:
1.OBAM SOW-SOW MIDANG,adalah sebagai kehormatan untuk mengajak Bujang dan Gadis termasuk anak-anak turut serta dalam Upacara Midang.
2.OBAM SOW-SOW GELAHON,
adalah di peruntukan proatin pihak mempelai perempuan,sebagai saksi
mengenai barang-barang bawakan dari mempelai prempuan,yang di sebut
masyarakat adat morge siwe “SAN-SAN”
3.OBAM SOW-SOW BENUE, di pruntukan bagi isi rumah yaitu dari keluarga atau orang tua dari mempelai prempuan
Yang
terlibat dalam upacara mengantarkan Obam Sow-Sow midang ini, ialah
Bujang dan Gadis pihak memoelai laki-laki yang di ketuai oleh MAS
AYU(tua gadis) dan CAPDALOM(tua bujang).Obam Sow-Sow ini di antar ke
rumah mempelai perempuan dengan tujuan mengajak Bujang dan Gadis dari
pihak kelurga mempelai prempuan agar turut serta meramaikan upacara
midang ini.
Adapaun Obam Sow-Sow ini terdiri dari bermacam ragam kue dan rempah-rempah terdiri dari:
1.Lima Piring Kue Cucur
2.Lima piring Bolu kue Bolu Sow-Sow
3Lima Piring Limau Purut
4.Lima Piring Kue Apil
5.Lima Piring Kue Gunjing
6.Lima Piring Kue Pisang Guring
7.Lima Piring Kue Kripi
8.Lima Piring Kue Tapol
9.Lima Piring Limping
10.Lima Piring Kue Bantal
11.Dua Piring Labu Merah (labu suluh).
12.Dua Piring Ubi Merah(ubi suluh)
13.Dua Piring Jagung
14.DUA Piring Umbut Rotan (hubow)
15 Dua Piring Kemiri (Kemiling)
16.Dua piring Kunyit(kunyoi)
17.Dua Piring Serai(sowai)
18.Dua Piring Asam Kandis (isom kandis)
19.Dua Piring Tembakau(temaku)
20.Dua Piring Gambir
21.Dua Piring Kapur Sirih(hapui)
22.Dua Piring Seikat Tebu (sekarut tebu)
Barang-barang
anataran ini di serahkan oleh mas ayu dan capa dalom dari pihak
keluarga bengiyan kepada pihak mas ayu Mas ayu Cap dalom keluaraga maju
serta saksi oleh ibuk-ibuk porwatin setempat (niay rie dan nilai
pnegawe).kalau maju atau mempelai kalau mempelai prwempuan ini anak
proatin,maka 0bam-Obam ini harus rangkat (dobel).
Upacara
Adat Oban Sow-Sow midang dan yang lain nya hanya terdapat pada tingkat
adat “MABANG HANDA” diman sebelumnya pada waktu terjadi pemutusan rasan
peminanagan sudah ada petunjuk barang bawakan bengiyan yaitu salah satu
GOLU (stoples).dari jumlah 3 GOLU berisi WAJI,SAGUN,JUWADAH.
i.Upacara adat Pati Sapi
Adalah dalam melaksanakan sedekah perkawaninan tingkat adat perkawinan mabang handa, khusus adat tahap Pati Sapi.
Sepintas
kita dapat mengerti,dalm upacara adat perkawinan ini akan menyembelih
sapi untuk keperluan sedekah,karan akan mengundang orng ramai termasuk
undangan sebelah besan.
Pelasksanaan
penyembelihan sapi atau kerbau di lakukan pagi hari selesai sholat
subuh, sedang yang terlibat dalam kegiatan ini adalah para tetangga di
ketuai oleh khotip dari dusun tersebut .
Irisan
daging nya telah di beriakan petunjuk oleh eorang panggung masak yaitu
seorang wanita yang telah ahli di bidang masak memasak
j.Upacara adat ngantat pekurangan
setelah
upacara penyembelihan sapi atau kerbau selesai,menunggu waktu agak
sudah siang,maka inigiliran upacara Ngantat pekurangan keluaga pihak
orang tua maju.
Adapun macamnya pekurangan yang di anatar akn ialah bahan-bahan mentah yang terdiri dari:
1.paha sapi/kerbau bagian depan sebelah yang di sembelih ini
2.beberapa ekor ayam
3.ikan
4.sayur-sayuran bermacam-macam
5.buah kelapa/nanas
6.dan lain-lain
Dengan
menggunakan sebuah gerobak barang-barang di atas di antar oleh beberapa
orang petugas ke rumah orang tua mempelai prempuan.
Setelah
petugas datang ketempat rumah kediaman orang tua mempelai prempuan,
maka barang-barang pekurangan ini di serahkan dan di terima ibuk-ibuk
yang di tua-tua kan dengan wajah yang gembira.
Kepada
petugas pengantar pekurangan ini di berikan suguhan minuman ala
kadarnya selesai minum mohon pamit dan pulang kembali menarik gerobak
yang telah kosong.
Dismping
itu daging sapi yang telah di sembelih ini juga di anatar kan kepada
penguasa adat (pasirah) dengan ukuran wadah sebuah bokor.Oleh karna
jabatan pasirah sudah di hapus kan maka tradisi ini sudah tidak di pakek
lagi.
Baik
paha sapi mauapun daging yang di anatar ini kepada mempelai prempuan
mauapun penguasa dat maupun penguasa adat .melambangkan sedekah
perkawinan ini menyembelih sapi atau kerbau .
k.upacara adat midang
upacara
midang adalah termasuk syarat perkawinan “mabang handa”.dimana tahap
adat ini telah dapat di ketahui dan disepakati melalui petunjuk
Oban-Oban bawakan sewaktuy terjadi memutuskan RASAN JADI yang telah di lakukan sebelumnya.
Dalam
melaksanakan adat midang,Bujang dan Gadis dari pihak kedua
keluarga,baik pihak keluarga,baik pihak keluarga bengiyan maupun pihak
keluraga maju,mengiringkan kedua mempelai mengelilingi morge
siwe(kayuagung)bejalan kaki serta diiringi pula dengan musik dari
belakang.
Pada
upacara ini kedua mempelai masing masing berpakaian adat seperti
maju(mempelai perempuan)mengenakan pakaian kain songket,baju,selendang
sonket,serata pakai pula dikepala nya pak sangko sedang
bengiyan(mempelai laki laki)memakai baju jas panjang,pakai
kepundang,kain sarung bumpa setengah tiang dan masing masing diawal oleh
seorang pukal.
Keberangkatan
rombongan midang ini bergerak di sekitar jam 14.00 WIB.di mulai dari
depan rumah pihak keluarga mempelai laki laki,di mana sebelmya maju
beserta rombongan Bujang dan Gadis ny di jemput oleh petugas bersama
musi.rombongan ini baik Bujang atau Gadis ny berpakaian setengah tiang
dan ada pula yang memakai setelah baju jas pakai dasi lengkap.sedang
gadis nya tidak ketinggalan mengimbangi bujang dengan pakaian kain,baju
selendang songket,serta beraneka ragam pakaian tradisional mulai dari
sabang sampai maraoke.
Kedua
mempelai juga berpakaian adat di awal oleh masing masing pukal nya,di
payungin oleh payung kebesaran oleh petugas dari belakang nya,seperti
layaknya menyambut kedatangan pejabat tinggi yang berkunjung ke daerah.
Setelah
semua peserta lengkap hadir,mulai lah di adakan barisan yang mengatur
didahului di muka sekali bendera merah putih,di susul anak anak,kemudian
di belakang nya kedua mempelai serta pukal nya kemudian barisan bujang
dan gadis di belakang sekali rombongan music yang meriahkan upacara
midang ini.
Brisan
midang ini layak nya seperti barisan karnafal,dimana sepanjang jalan
yang dilalui di kiri dan di kanan jalan di saksikan oleh penduduk dusun
tua muda yang di lalui.
Oleh
karna letak morge siwe(Kayu Agung)ini di pisahkan oleh sungai komring
,maka di ujung dusun dan di pangkal dusun sudah di persiapkan alat
penyebrangan dengan menggunakan beberapa buah perahu\sampan,sekarng udah
ada motor ketek,dan perahu sudah langka.
Sesampainya
barisan midang di ujung dusun sementara barisan di bubarkan dan di atur
untuk naik perahu satu persatu untuk diantar sampai keseberang,sehingga
sampai barisan rombongan.
Sesampai
barisan rombongan barisan midang ini di atur lagi seperti semula dan
melanjutkan perjalanan dimana nanti nya barisan ini diberhentikan di
salsh satu dusun untuk sekedar minum melepaskn dahaga.minuman ini
sengaja di sediakan oleh salah satu anggota keluarga.apakah dari anggota
keluarga dari pihak laki laki atau dari keluarga pihak mempelai
perempuan.
Selesai
menikamati minuman dan buahan-buahan yang tersedia barisan kembakli
meneruskan perjalanan sampai dusun-dusun di lewati dalam morge siwe.
Rombongan
midang ini berakhir yaitu di rumah kediaman mempelai laki-laki tempat
awal berangkat setelah barisan di bubarkan dan masing-masing pulang ke
rumah mak mempelai di anatar pulang ke rumah orang tua nya oleh
bai-bai(wanita yang telah bersuami)
Serta didampingi pukal maju.setiba di temapt mempelai perempuan di serah kan oleh bai-bai tadi secara baik-baik.
Baca Juga Adat Perkawinan Morge Siwe (Kayuagung) Bag.1
Sumber : Buku Adat Istiadat Morge Siwe Kayuagung
Pembina Adat Kabupaten OKI
ADAT PERKAWINAN MORGE SIWE - KAYUAGUNG Bag.2
4/
5
Oleh
ompay